Monday, 15 March 2010

PENGERTIAN PESANTREN ADA APA DENGAN PESANTREN ?

Untuk membatasi arti pondok pesantren merupakan hal yang sulit, karena para ulama atau cendekiawan berbeda pendapat, dan berbeda dalam sudut pandangnya, di antaranya yaitu:
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang didalamnya terdapat komponen-komponen pembelajaran yang terdiri dari kyai, kitab kuning ustadz, santri dan pengurus sebagai aktor atau pelaku serta beberapa buah bangunankediaman pengasuh surau atau masjid tempat pengajaran dan asrama atau ribath sebagai tempat tinggal para santri. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang telah berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat Islam, pusat dakwah dan pusat pengembangan masyarakat muslim di Indonesia. Kata pesantren atau santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti “ guru mengaji “. Sumber lain menyebutkan bahwa kata itu berasal dari bahasa india “ shasti “ dari akar kata “ sastra “ yang berarti “ buku-buku suci “. Buku-buku agama atau buku-bukui tentang ilmu pengetahuan”. Diluar pulau jawa lembaga pendidikan ini disebut dengan nama lain, seperti surau (di Sumatera Barat) daerah (Aceh) dan pondok (daerah lain). Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku seharĂ­-hari. KH. Imam Zarkasyi berkata devinisi yang umum pesantren adalah terwujudnya hal-hal; lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama, kyai sebagai central figurnya, masjid sebagai titik pusat yang menjiwai. Mu’thi Ali mengatakan pondok pesantren adalah status lembaga pendidikan yang sistem pendidikan dan pengajarannya mempunyai ciri-ciri tertentu.
Kekhususan pesantren dibanding dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya adalah para santri atau murid yang tinggal bersama dengan kyai atau guru mereka dalam satu kompleks tertentu yang mandiri, sehingga dapat menumbuhkan ciri-ciri khas pesantren sebagai berikut:
1.Adanya hubungan yang akrab antara santri dan kyai.
2.Santri taat dan patuh kepada kyainya.
3.Para santri hidup secara mandiri dan sederhana.
4.Adanya semangat gotong royong dalam suasana penuh persaudaraan.
5.Para santri terlatih hidup yang disiplin dan tirakat. Agar dapat melaksanakan tugas mendidik dengan baik, biasanya sebuah pesantren memiliki sarana fisik yang minimal terdiri-dari sarana dasar, yaitu masjid atau langgar sebagai pusat kegiatan, rumah tempat tinggal kyai dan keluarganya, pondok tempat tinggal santri, dan ruangan-ruangan belajar.
Pesantren juga memiliki lima elemen dasar yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dan berada pada satu kompleks tersendiri, yaitu:
1.Pondok. dalam tradisi pesantren pondok merupakan asrama dimana para santri tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan kyai. Pada umumnya komplek pesantren dikelilingi pagar sebagai pembatas yang memisahkan dengan masyarakat umum di sekelilingnya.
2.Masjid.dalam struktur pesantren masjid merupakan unsur dasar yang harus dimiliki pesantren karena ia merupakan tempat utama yang ideal untuk mendidik dan melatih para santri, khususnya didalam mengajarkan tata cara Ibadah, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, dan kegiatan kemasyarakatan. Masjid pesantren biasanya dibangun dekat rumah kediaman kyai dan berada ditengah-tengah kompleks pesantren.
Dalam tradisi pesantren, pengajaran kitab-kitab Islam klasik lazimnya memakai metode-metode sebagai berikut:
a.Metode Sorogan yaitu bentuk belajar mengajar dimana kyai hanya menghadapi seorang santri atau sekelompokan kecil santri.
b.Metode Wetonan dan bandongan yaitu metode belajar dengan sistem ceramah. Kyai membaca kitab dihadapan kelompok santri tingkat lanjutan dalam jumlah besar pada waktu-waktu tertentu.
c.Metode Musyawarah adalah sistem belajar dalam bentuk seminar untuk membahas setiap masalah yang berhubungan dengan pelajaran santri ditingkat tinggi. Metode ini menekankan keaktifan pada pihak santri, yaitu santri harus aktif mempelajari dan mengkaji sendiri buku-buku yang telah ditentukan kyainya.
d.Metode Hafalan. Metode ini berlangsung dimana santri menghafal texs atau kalimat tertentu dari kitab yang di pelajarinya. Materi hafalan biasanya berbentuk syair atau nazhom. Sebagai pelengkap metode hafalan Sangat efektif untuk memelihara daya ingat (memorizing) santri terhadap materi yang dipelajari, karena dapat dilakukan baik didalam maupun di luar kelas.
3.Kyai
Menurut asal-usulnya kata “ Kyai “mempunyai arti yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang diantaranya yaitu:
-Kyai sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat, umpamanya “ kyai garuda kencana “ dipakai untuk debutan kereta emas yang ada di Keraton Yogyakarta.
-Kyai sebagai gelar untuk orang tua yang mempunyai keutamaan ilmu agama.
-Kyai sebagai gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pondok dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya. Nah yang terakhir inilah yang lebih populer di masyarakat Indonesia.
- Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya.
Adapun budaya yang ada dalam pesantren sangat jauh berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Karena pondok pesantren mempunyai keistimewaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lainnya. Seperti panca jiwa pesantren. Adapun panca jiwa pesantren yang kami maksud adalah sebagai berikut;
1. Jiwa keihlasan
Yaitu yang berarti sepi ing pamrih rame ing gawe dan tidak terdorong oleh keinginan memperoleh keuntungan tertentu, tetapi semata-mata karena ibadah, karena Allah (lillaahi ta'ala). Kyai dan guru di pondok pesantren ikhlas didalam mendidik dan mengajar, santri di pondok ihlas dalam belajar, suasana di pondok selalu diliputi oleh keihlasan.

2.Jiwa kesederhanaan
Yaitu berati hidup bersahaja atau wajar. Kehidupan sehari-hari di pondok harus sederhana. Hidup sederhana bukan berarti pasif atau nerimo. Hidup sederhana juga bukan berarti melarat atau miskin.hidup sederhana karena kesederhanaan itu mengandung unsur kekuatan, kesanggupan, ketabahan hati serta penguasaan diri dan menjadi senjata ampuh dalam menghadapi perjuangan hidup dan segala kesulitan.
3.Jiwa Ukhuwah Islamiyah yang demokratis.
Yaitu yang berarti bahwa kehidupan di pondok harus selalu di liputi oleh suasana dan perasaan persaudaraan yang akrab, sehingga segala kesenangan dan kesusahan di rasakan bersama dengan jalinan perasaan keagamaan. Persaudaraan ini bukan saja selama di dalam pondok atau pesantren itu sendiri, tetapi juga harus dapat mempengaruhi kearah persaudaraan dan persatuan ummat dalam masyarakat luas.
4.Jiwa kemandirian.
Mandiri di sini dalam artian bahwasanya santri di dalam pondok tidak diajarkan untuk hidup yang tidak mudah menggantungkan hidupnya pada orang lain kecuali menggantungkan dirinya pada Allah SWT belaka.
5.Jiwa bebas dalam memilih alternatif jalan hidup dan menentukan masa depan dengan jiwa besar dan sikap optimistis menghadapi segala problematika hidup berdasarkan nilai-nilai Islam
Kecuali itu pesantren di dalam menjalankan roda pendidikannya mempunyai prinsip-prinsip sistem pendidikan tersendiri. Adapun prinsip-prinsip sistem pendidikan pesantren sebagai berikut:
a.Sukarela dan mengabdi
b.Kearifan
c.Kesederhanaan
d.Mengatur kegiatan bersama
e.Mandiri
f.Mengamalkan ajaran agama
g.Pesantren adalah tenpat mengamalkan ilmu dan mengabdi
h.Tanpa ijazah
4Santri
Menurut pengertian yang dipakai dalam lingkungan pesantren, seorang alim hanya bisa disebut kyai bilamana memiliki pesantren dan santri yang tinggal dalam pesantren tersebut untuk mempelajari kitab-kitab agama Islam
Kata-kata santri memiliki dua makna yakni:
1Santri adalah murid yang belajar ilmu agama Islam di pondok pesantren yang datang dari jauh maupun dekat.
2.Santri adalah gelar bagi orang-orang sholeh dalam agama Islam.
Santri merupakan elemen yang esensial dari suatu pesantren, baik yang selama 24 jam tinggal di pesantren atau yang hanya beberapa jam saja dalam setiap harinya. Dengan demikian menurut tradisi pesantren terdapat dua kelompok santri,yaitu:
1. Santri mukim yakni murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pesantren. Santri yang sudah lama mukim dalam pesantren biasanya menjadi kelompok tersendiri dan sudah memikul tanggung jawab merngurusi kepentingan pesantren seharĂ­-hari, mengajar santri-santri muda tentang kitab-kitab rendah dan menengah. Kebanyakan mereka datang dari jauh, karena mereka memilih pondok-pondok yang bonafid dan terkenal menurutnya.
2. Santri kalong yaitu murid-murid yang berasal dari desa sekelilingnya, yaitu biasanya mereka tidak tinggal di pondok kecuali kalau waktu-waktu relajar (sekolah dan mengaji) saja, mereka bolak balik dari rumah (mbajak/ nglajo) dalam bahasa jawanya.
Motifasi santri pergi dan menetap disuatu pesantren diantaranya yaitu:
1. Ia ingin mempelajari kitab-kitab lain yang membahas Islam lebih mendalam dibawah bimbingan kyai yang memimpin pesantren tersebut.
2. Ia ingin memperoleh pengalaman kehidupan pesantren baik dalam bidang pengajaran, keorganisasian maupun ingin hubungan dengan pesantren-pesantren terkenal.
3. Ia ingin memusatkan studinya di pesantren tanpa disibukkan oleh aktifitas atau kewajiban-kewajiban sehari-hari dirumah.Disamping itu dengan tinggal di pesantren yang jauh dari kampungnya, yang bisa menyebabkan ia tidak mudah pulang balikmeskipun kadang-kadang menginginkannya.

5. Pondok
Tempat-tempat pemukiman para santri di pesantren terkenal dengan sebutan " Pondok ". Istilah pondok barang kali berasal dari pengertian asrama para santri, atau tempat tinggal mereka yang terbuat dari bambu. Atau barang kali berasal dari bahasa " Funduuk ' yang berarti hotel atau asrama/tempat penginapan maka dari itu bila dikatakan pergi kepondok berarti pergi ke pesantren. Pondok menurut istilah indonesia berarti gubug atau rumah kecil. Di pesantren biasanya dibangun rumah-rumah kecil atau kamar-kamar dekat masjid dan disekeliling kediaman kyai, dan rumah-rumah kecil inilah tempat murid-murid/santri, sehingga memungkinkan diberlakukannya disiplin santri, karena mereka berdiam di dalam pondok ( asrama ).
Sistem asrama bagi para santri merupakan ciri khas tradisi pendidikan pesantren yang membedakannya dari sistem pendidikan tradisional di masjid-masjid yang berkembang di Indonesia. Pada zaman dahulu hampir seluruh komplek merupakan milik kyai, tetapi sekarang berangsur-angsur berubah menjadi bukan milik kyai saja, melainkan milik yayasan atau badan wakaf atau masyarakat. Hal itu disebabkan para kyai sekarang memperoleh sumber-sumber keuangan untuk mengongkosi pembiayaan dan perkembangan pesantren dari yayasan atau masyarakat. Walaupun demikian para kyai masih tetap memiliki kekuasaan mutlaq atas pengurusan pondok atau komplek tersebut. Para penyumbang sendiri beranggapan bahwa para kyai berhak memperoleh dana dari masyarakat dan dana itu dianggap sebagai milik Tuhan.
Ada dua alasan utama dalam perubahan sistem kepemilikan pesantren, pertama; pesantren dizaman dahulu tidak memerlukan pembiayaan yang besar, baik karena jumlah santrinya yang tidak banyak maupun karena kebutuhan akan jenis alat-alat bangunan dan lain-lainnya relatif sangat kecil. Kedua Kyai pesantren maupun ustadz pembantu-pembantunya termasuk kelompok mampu pedesaan, sehingga mereka mampu membiayai sendiri baik kebutuhan kehidupannya maupun kebutuhan penyelenggaraan pengajaran dan pendidikan di pesantrennya.

6. Masjid
Masjid sebagai elemen yang tidak dapat dipisahkan dari pesantren, bahkan sebagai tempat yang paling tepat (strategis) untuk mendidik para santri, terutama dalam praktek sholat lima waktu berjamaah, khutbah dalam sholat jumat dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik.
Sistem pendidikan Islam yang terpusat dimasjid sejak masjid Quba' didirikan di Madinah di zaman Nabi Muhammad Saw tetap terpancar dalam sistem pesantren. Sejak masa nabi, masjid telah menjadi pusat pendidikan Islam. Dimanapun kaum muslimin berada mereka selalu menggunakan masjid sebagai tempat pertemuan, pusat pendidikan, aktifitas administrasi dan kultural, bahkan pada zaman sekarangpun masih kita temukan para 'Ulama (Kyai) yang mengajar murid-murid di masjid dengan penuh pengabdian, serta memberi wejangan dan anjuran kepada murid-muridnya untuk meneruskan tradisi yang sudah terbentuk sejak zaman permulaan Islam.
Lembaga-lembaga pesantren di jawa memelihara terus tradisi ini, para kyai selalu mengajar murid-muridnya dimasjid dan menganggap masjid sebagai tempat yang palin tepat untuk menanamkan disiplin para murid dalam mengerjakan kewajiban sholat lima waktu, memperoleh pengetahuan agama dan kewajiban agama yang lain. maka seorang kyai yang ingin mengembangkan sebuah pesantren, biasanya pertama mendirikan masjid di dekat rumahnya. Langkah ini biasanya di ambil atas perintah gurunya yang telah menilai bahwa ia akan sanggup memimpin sebuah pesantren.
7. Pengurus
Pengurus adalah sekelompok orang yang diberi amanat untuk mengurus, mengelola, mendidik dan membimbing seorang santri yang ada dalam pondok pesantren dan juga mengatur manajemen pondok pesantren, pengurus di pondok pesantren umumnya dipilih dari unsur-unsur pondok yang dalam hal ini mencakup guru, pembina dan santri.
Dengan keberagaman unsur ini, maka tingkatan tanggung jawab yang diemban diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Sebagai pengurus ia bertanggung jawab terhadap keberlangsungan segala agenda dan aktifitas di pondok pesantren serta mengorganisir kegiatan-kegiatan yang ada, pengurus mempunyai peran diantaranya sebagai berikut:
a. Peran organisator
Peran organisator disini diartikan bahwa pembina mengorganisasi dan menggerakkan santri untuk melakukan kerja kepengurusan dan kegiatan-kegiatan yang ada. Sehingga diharapkan dapat membentuk kepribadian yang disiplin dan mandiri.
b. Peran Manager
Peran manager disini dapat diartikan bahwa pengurus mengatur segala aktifitas yang dilakukan oleh warga pesantren. Tentunya dengan adanya mangemen yang baik dapat membantu dalam kepembinaan terutama dalam pembentukan kepribadian santri.
c. Pembuat Kebijakan
Peran pengurus dalam pembuatan kebijakan ini diartikan bahwa pengurus membuat kebijakan-kebijakan yang bersifat operasional dalam menentukan arah pendidikan dan kepembinaan pondok pesantren.
d. Pelaksana Kebijakan
Di samping sebagai pembuat kebijakan pengurus juga bertindak sebagai pelaksana kebijakan. Pada peran ini meliputi kebijakan yang dibuat oleh pengurus sendiri dan kebijakan dari pengasuh. Adapun peran pelaksana kebijakan disini dapat dibagi menjadi tiga:

1. Motor (Penggerak)
Penggerak dalam artian bahwa santri yang merupakan peserta didik dengan tingkat kedewasaan yang masih kurang sehingga belum punya kemandirian yang baik, oleh karena itu dalam setiap kegiatan maka pengurus selalu menggerakkan santri baik secara langsung ataupun tidak langsung.
2. Monitoring (Pengawas)
Pengurus melakukan pengawasan terhadap haliyah (keadaan) santri yang baik yang berkenaan dengan perilaku, perkataan, etika, kedisiplinan dan lain-lain.
3. Pemberi Sanksi
Pengurus tidak secara langsung memberikan sanksi tetapi lebih pada memberikan pertimbangan Departemen Keamanan Dan Ketertiban dalam hal pemberian sanksi pada santri yang melakukan pelanggaran.
2). Pengurus sebagai seorang guru di pondok pesantren mempunyai fungsi sebagai berikut
a). Sebagai Mu'allim
Sebagai seorang Muallim (pengajar) dalam melakukan proses pendidikan yang ada di pondok pesantren menggunakan sistem pendidikan pesantren seperti metode sorogan, bandongan dan muhafadhoh (hafalan).
b). Sebagai Murobbi
Sebagai Murobbi seorang pengurus berusaha untuk mencerminkan dirinya sebagai orang yang selalu konsisten ucapan dan perbuatan. Pada fungsinya sebagai Murobbi pembina lebih berperan sebagai orang tua.

c). Sebagai Muaddib
Pembina sebagai Muaddib lebih berperan sebagai pemberi uswah hasanah (suri tauladan) karena pembina merupakan public figure. Oleh karena itu sebagai muaddib dalam setiap perkataan, perilaku dan perbuatannya selalu menjadi sorotan dan perhatian santri, disamping itu pembina memiliki peran sebagai pembimbing moral spiritual yang konsisten.
Dari peran sebagai guru ini sesuai dengan peran pengurus dalam prespektif pendidikan Islam yaitu pendidik adalah murobbi, muallim, dan muaddib sekaligus. Artinya seorang pendidik harus memiliki sifat-sifat robbani, bijaksana, terpelajar, tanggung jawab, kasih sayang terhadap peserta didik dan harus menguasai ilmu teoritik, kreatif, memiliki komitmen tinggi dalam mengembangkan ilmu dan sikap menjunjung tinggi nilai-nilai ilmiah, serta mampu mengintegrasikan ilmu dan amal sekaligus.

8. Proses Pengajaran Di Pesantren
Proses pengajaran pada zaman dahulu lebih banyak memperhatikan pengajaran kitab-kitab klasik, yang di karang oleh ‘Ulama’ salaf yang mengikuti pola pikir (Madzhab Asy-Syafi’i). Kitab-kitab itu mencakup seluruh aspeknya yaitu, Nahwu, Shorof, Fiqih, Hadits, Tafsir, Tauhid, Tasawuf, dan Akhlak.
Adapun metode pengajarannya lebih banyak menggunakan metode antara lain:
a. Metode Weton yaitu, metode penyampaian secara ceramah kepada jamaah dimana para santri duduk di sekeliling kyai atau ustadz berbentuk halaqoh, kemudian para kyai itu menerangkan satu kitab dan para santri menyimak kitab-kitab mereka serta menulis arti kata di bawah deretan teks(memberi makna gandul). biasanya waktu pengajarannya sebelum atau sesudah sholat fardhu.
b. Metode sorogan yaitu, pembacaan dihadapan kyai, yakni setiap murid secara bergiliran menghadap dan membawa kitabnya, lalu bapak kyai membacakannya dan menterjemahkan dalam bahasa daerah dan santri tersebut mendengarkan dan menulis apa yang di katakan oleh kyai, di sela-sela teks yang ada (memberi makna gandul).

B. Pandangan Pesantren Tentang Pendidikan Akhlak, Etika atau Moral

1. Pengertian Pendidikan Akhlak
Kata pendidikan berasal dari kata dasar "didik" mendapat imbuhan awalan "pe" dan akhiran "an" sehingga terbentuk kata pendidikan yang artinya cara mengajar atau perihal mengajar. Sedangkan yang dimaksud dengan mendidik adalah menanamkan atau menyampaikan pengetahuan pada peserta didik, atau dengan pengertan lain mengajar adalah memberikan ajaran-ajaran berupa ilmu pengetahuan kepada seseorang atau beberapa orang sehingga mereka dapat memiliki dan memahami ajaran-ajaran tersebut. Adapaun akhlak merupakan sinonim dari kata moral, etika. Dan dalam hal ini akan penulis paparkan satu persatu tentang arti dari kalimat-kalimat tersebut diatas

Reactions:

0 comments:

Post a Comment