Friday, 14 May 2010

Perjalanan seorang Pemuda dari lereng Gunung Slamet (Panglima Soedirman)

24 Januari 1916 di Desa Bantarbarang,Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga dibawah lereng Gunung Slamet. Ia seorang anak dari pasangan suami dan Istri keluarga yang rakyat kecil ayahnya sebagai seorang mandor tebu dan ibunya seorang wanita desa. sejak kecil ia diambil dan diasuh oleh pamannya yang bekerja sebagai asisten Wedana atau sekarang camat dan berkat pamannya juga ia bisa masuk ke Hollandsch Inlandse School (HIS) mungkin kalau saat ini adalah sekolah berstandar internasional akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama karena Soedirman pindah ke Wiroro Tomo dari sinilah karakter dan jiwa patriotismenya ia peroleh.

di Wiroro Tomo ini ia (Soedirman) diajar oleh tiga orang guru yang mempunyai latar belakang paham beda-beda mulai dari yang berpaham nasionalistis- sekuler, nasionalistis-konvensionalis dan yang ketiga inilah peletak dasar jiwa panglima besar perang dengan latar belakang militer
Pada hari minggu, 29 Januari 1950, di rumah peristirahatan di Magelang, Soedirman, letnan jendral, Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia, menutup mata untuk selama-lamanya. keesokan harinya jenasahnya diantar dengan iring-iringan menuju Yogyakarta, ibu kota perjuangan, untuk dimakamkan.

Sepanjang rute perjalanan yang jaraknya 43km itu ribuan rakyat berderet-deret di tepi jalan.orang sederhana keluar dari desanya masing-masing dan dengan berdiam diri memandangi jenasahnya seorang Panglima Soedirman. ketika iring-iringan jenasahnya tiba di yogyakarta, khalalayak yang menunggu di sepanjang jalan semakin menebal dan berjubel hingga alun-alun utara. jenasah diturunkan sebentar di masjid Agung, tempat Almarhum sering melaksanakan ibadah untuk disembayangkan sebelum dimakamkan.

mereka yang menyaksikan tahap terakhir dalam perjalanan penghabisan almarhum dari masjid agungke taman makam pahlawan semakin tidak akan dapat meupakan suasana duka yang diaksentuasi oleh bunyi redup genderang dan dibalut oleh kain hitam. suasana yang hening itu mengingkari hadirnya ribuan manusia yang berjejal-jejal, berhimpit-himpit di kedua tepian jalan.

pada waktu itu maupun sekarang, mengapa tokoh kurus itu mengapa begitu hangat didalam dada setiap orang dari sekian banyak lapisan masyarakat yang sebagian besar belum mengenal televisi dan belum mempunyai pers ayang masih sangat sederhana perlengkapannya, mengapa orang yang baru 4 tahun hadir dalam pentas nasional dapat memperoleh tempat disisi sekian banyak pemimpin bangsa yang selama beberapa puluh tahun menjadi buah bibir khalayak ramai.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment