Sunday, 18 April 2010

METODE-METODE YANG DITERAPKAN NABI MUHAMMAD SAW DALAM BERMASYARAKAT

Dalam masyarakat, Nabi SAW menggunakan metode pendidikan akhlak sebagai berikut :
1. Metode Dialog
Terhadap tetangga. Rasulullah SAW dalam berinteraksi dengan tetangga dan masyarakat menggunakan metode dialog, hal ini dapat terlihat dalam sabda Rasulullah SAW :

Diriwayakan dari abu musa ra. Sesungguhnya dia telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: tidaklah kamu sekalian termasuk beriman sebelum kamu saling menyayangi. Beliau menjawab, yang dimaksudkan bukalah berkasih-kasihan hanya dengan salah seorang di antara kawan-kawan saja, tetapi berkasih sayanglah kepada umum (HR. Abu Daud )
Diriwayatkan dari Anas ra. Ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, dami dzat yang dirku berada dalam kekuasaan-Nya, Sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan belas kasih-Nya kecuali kepada orang yang berhati belas kasih. Para sahabat berkata, Ya Rasulullah, kami sudah berbelas kasih. Beliau menjawab, bukanlah berbelas kasih itu kapada diri dan isteri (keluarga) secara khusus, tetapi yang kumaksudkan adalah berbelas kasih kepada semua kaum muslimin.

Rasulullah SAW bersabda :

Tamim addari ra mengatakan, rasulullah SAW bersabda : inti agama itu ialah nasihat (disabdakan 3 kali). Kami bertanya, untuk siapa nasihat itu ya Rasulullah? Untuk mengenalkan manusia kepada Allah dan kepada Nabi utusan dan sebagai kewajiban pemimpin kaum muslimin dan umumnya mereka (HR. muslim)

Dari Abu Hurairah ra beliau berkata : Rasulullah SAW bersabda, kewajiban orang muslim terhadap muslim yang lain itu ada enam yaitu apabila engkau bertemu dia maka salamlahkepadanya; apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya apabila dia meminta nasihatmu nasihatilah dia; apabila dia bersin lalu dia memuji Allah maka do’akanlah dia; apabila dia sakit maka jenguklah dia; dan apabila dia mati maka antarkan jenazahnya (HR.Muslim)

Dari kutipan hadits diatas dapat diketahui bahwa nabi SAW menggunakan metode dialog di dalam mengajarkan materi pendidikan akhlak.

2. Metode Nasihat
Anas ibn Malik ra menceritakan bahwa ada tiga orang yang mendatangi rumah-rumah isteri Nabi SAW untuk menanyakan perihal ibadah beliau. Maka ketika diberitahukan tentang ibadah Nabi, seolah-olah ibadah yang mereka kerjakan sedikit sekali.mereka berkata, bagaimana kami bila dibandingkan dengan Nabi Saw. yang telah diampuni dosa yang telah lalu dan yang akan datang!” salah seorang diantara mereka berkata, ”saya akan shalat sepanjang malam.”yang lain berkata, ”saya akan puasa sepanjang masa dan tidak pernah berbuka.” sedangkan yang terakhir berkata, ” saya akan menjauhi perempuan dan tidak akan menikah selamanya.” kamudian Rasulullah SAW. datang dan bertanya, ” apakah kalian orang yang mengatakan demikian dan demikian. Demi Allah saya adalah orang yang paling takut dan paling bertaqwa kepada Allah, namun saya puasa dan berbuka, shalat dan tidur, serta menikah. Barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku, bukanlah ia termasuk golonganku.
Sulaiman al-Taimiyy menceritakan dari Anas bahwa dua orang lelaki bersin di samping Nabi Saw. salah seorang mngucap doa sedangkan yang lain tidak. Anas berkata, ” Ya Rasulullah, dua orang bersin, anda mendoakan salah seorang dari keduanya, dan tidak mendoakan yang lain. ” Rasul saw. berkata, ” sesungguhnya orang ini memuji kepada Allah, dan yang ini tidak.”
Hadist lain menceritakan bahwa kildah ibn al-hanbal ra. Datang menemui Rasul Saw. dia masuk ke rumah Rasul tanpa mengucapkan salam (al-salam ’alaikum). Melihat sikap kildah tersebut Rasul SAW. berkata, ”kembalilah dan ucapkan salam (al-salam’alaikum), apakah saya diperkenankan masuk?”

Dari beberapa hadits diatas dapat diketahui bahwa Nabi Saw. dalam mengerjakan materi akhlak menggunakan metode nasihat dalam berbagai variasi bentuknya. Nasihat yang tercermin dalam hadits pertama berbentuk sindiran halus. Secara psikologis, nasihat dengan melalui sindiran halus terhadap sesuatu yang penting atau sesuatu yang harus diperbaiki secepatnya akan lebih mengenah sasaran. Melalui sindiran halus, maka orang yang melakukan suatu perbuatan yang salah tidak akan merasa tersinggung apalagi merasa keberatan untuk meninggalkan kesalahan itu. Seorang pendidik atau pengajar yang baik akan selalllu menggunakan cara yang terbaik dalam memberikan nasihatnya. Sindiran halus merupakan salah satu bentuk nasihat yang tepat dan efektif, sebab dengan cara itu kesalahan seseorang dapat dikoreksi tanpa harus menjatuhkan mental orang yang bersangkutan di hadapan orang lain.
Sementara itu, dalam hadits kedua dan ketiga masing-masing menjelaskan bahwa Nabi Saw. menggunakan metode nasihat dengan disertai alasan (hujjah) yang kuat dan metode teguran langsung. Didalam contoh hadits diatas Nabi Saw. memberikan alasan beliau mendoakan salah seorang diantara dua orang yang bersin di samping beliau dan tidak mendoakan yang lainnya. Dari hadits ketiga dapat dpahami bahwa Nabi Saw. menggunakan metode nasihat dalam bentuk teguran langsung. Nabi Saw. menegur langsung kepada kildah ketika diketahui bahwa dia masuk untuk menemui beliau tanpa mengucap salam sebelumnya. Nasihat dalam bentuk apapun tidak saja harus disampaikan dengan cara yang paling baik dari seorang pendidik kepada anak didiknya. Akan tetapi, nasihat juga dibutuhkan diantara sesama anak didik dan disampaikan dengan cara sebaik-baiknya. Bagi seorang pendidik, nasihat yang diberikan itu jangan sampai mempertajam timbulnya perbedaan pendapat dan sikap anarki, apalagi sikap permusuhan diantara anak-anak didiknya, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh al-Zarnuji dalam kitab ta’lim-nya.

3. Metode Peragaan
Pendidik akhlak juga diajarkan oleh Muhammad Saw. dengan menggunakan media peraga sebagaimana lazimnya media yang dipergunakan oleh seorang pendidik sekarang, meskipun dalam bentuknya yang sangat sederhana. Media peraga digunakan oleh Nabi Saw. untuk membantu pemahaman suatu konsep tertentu atau untuk mempertegas sesuatu yang konkret (indrawi). Untuk dapat dipahami dengan baik pada point ini, perhatikan kutipan dua hadits berikut ini.
Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa Nabi Saw. membuat gambar berupa garis segi empat. Beliau juga menggambar garis-garis kecil yang terletak disamping garis tengah. Kemudian beliau SAW . bersabda, ” ini adalah manusia, dan ini adalah ajal yang mellingkupinya. Ini, garis yang menuju keluar, adalah cita-citanya.sedangkan garis-garis kecil ini adalah hambatan-hambatan yang menghadangnya. Bila ia lepas dari hambatan ini, ia akan dihadang oleh ini, dan bila ia lepas dari hambatan ini, ia akan dihadang oleh ini.”
Sufyan ibn Abdillah ra. Bertanya kepada Rasul Saw, ” Wahai Rasulullah beritakanlah kepadaku sesuatu hal yang dapat saya perangi. ” Rasul Saw. menjawab, ” Katakanlah Tuhankuk adalah Allah, Kemudian istiqamahlah (konsekuenlah).” Kemudian Sufyan bertanya lagi, ” Ya Rasulullah apa yang paling kamu takutkan dari saya?” Rasul Saw. lalu memegang lidahnya sendiri sambil bersabda, ” ini.”
Hadits pertama mengandung pelajarang mengenai tidak baiknya seseorang memiliki panjang angan-angan (tul al-amal) sehingga mengakibatkan hilangnya rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah, padahal kematian senantiasa mengintai dirinya. Sedangkan hadits kedua menjelaskan tentang perintah menjaga lidah dan bahaya yang ditimbulkan akibat tidak mau menjaganya. Dua macam akhlak tersebut diajarkan Nabi Saw. kepada umatnya dengan menggunakan metode peragaan untuk menjelaskan konsep hidup manusia kaitannya dengan cita-citanya, dan mempertegas sesuatu yang konkret yaitu lidah dan bahaya yang ditimbulkannya apabila tidak dijaga.

4. Metode Keteladanan
Disamping beberapa metode pendidikan Nabi Saw dalam bidang akhlak seperti telah dijelaskan diatas, terdapat metode lain yang justru paling mendominasi pendidikan akhlak yang disampaikan oleh Nabi Saw. yaitu metode keteladanan (contoh). Diskusi mengenai keteladanan Nabi Saw. dalam mendidik umatnya disegala bidang kehidupan hampir merupakan tema utama ketika membahas tentang sistem pendidikan Nabi Saw. di dalam kajian inipun telah banyak dikupas mengenai masalah keteladanan Nabi Saw. untuk melengkapi pembahasan mengenai metode keteladanan Nabi Saw. dalam mengajarkan akhlak akan disampaikan salah satu contoh akhlak beliau dalam mendidik umatnya berupa sikap tawakal kepada Allah.
Jabir ibn ’Abdillah menceritahkan bahwa ketika Rasul Saw. sedang beristrirahat dibawah pohon dalam sebuah peperangan, tiba-tiba seorang laki-laki mendatangi beliau. Pada saat itu beliau sedang tidur. Laki-laki itu mengambil pedang Nabi sehingga beliau terbangun, dan laki-laki itu dengan pedang terhunus di tangannya berdiri tepat diatas kepala Nabi Saw. kemudian laki-laki itu bertanya kepada Nabi, ” siapa yang dapat mencegahmua sekarang?” Nabi menjawab, ”Allah.” lalu laki-laki itu bertanya untuk yang kedua kalinya, ” siapa yang dapat mencegahmu?” Nabi menjawab, ”Allah.” mendengar jawaban Nabi, laki-laki itu mengembalikan pedang yang ada di tangannya sambil bersimpuh di hadapan Nabi Saw. kemudian Nabi membiarkan laki-laki itu pergi berlallu.
Bagaimana Nabi Saw. memberikan pelajaran kepada umatnya mengenai sikap tawakkal kepada Allah melalui contoh perbuatan nyata. Dalam kondisi dimana nyawanya terancam, beliau tetap konsisten berpegang teguh kepada pertolongan Allah. Akan tetapi ktika Allah menolongnya, beliau tidak bersikap zalim kepada orang yang telah mengancam keselamatan dirinya. Bahkan orang itu disuruhnya pergi tanpa dicederai sedikit pun oleh Nabi Saw.
Perlu dikemukahkan bahwa Nabi Saw. juga menggunakan metode perumpamaan (imsal) di. Dalam mengajarkan materi akhlak. Untuk dapat dipahami dengan baik pada point ini, perhatikan hadits berikut ini.
Imam al-Tabrani meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, ” perumpamaan seorang pakar ilmu calim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia tetapi ia melupakan dirinya sendiri, seperti sebuah lampu yang memberi cahaya kepada manusia, tetapi dirinya sendiri terbakar.


Reactions:

0 comments:

Post a Comment